Asal Usul Jamu Jawa, Manfaat dan Pelestariannya

A. Sejarah dan Bahan Baku Jamu Jawa

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Jamu didefinisikan sebagai obat yang dibuat dari akar-akaran, daun-daunan, dan sebagainya. Bahan baku jamu yang berasal dari berbagai bagian tumbuhan ini tumbuh subur di bumi Indonesia. Letak astronomis Indonesia yang beriklim tropis menyebabkan suhu, iklim dan cuaca mendukung terciptanya kekayaan flora dan fauna. Kekayaan jenis tanaman ini terbukti mengandung khasiat untuk kebugaran tubuh maupun pengobatan.

Jamu telah menjadi warisan leluhur di tanah Jawa melalui budaya tutur secara turun temurun dan juga telah tertulis dalam serat Jawa diantaranya Serat Centhini dan Serat Primbon Jampi Jawi. Serat Centhini ditulis pada tahun 1742 tahun Jawa atau tahun 1814 Masehi dan Serat Primbon Jampi Jawi dicetak pada tahun 1933. Berdasarkan dokumentasi tersebut terbukti bahwa jamu telah digunakan sejak lama dan khasiatnya dirasakan secara empiris bagi masyarakat Jawa.

Dalam penelitian kajian Serat Primbon Jamu Jawi yang dilakukan oleh Hesti Mulyani dkk ditemukan bahwa tanaman sebagai bahan baku pembuatan jamu untuk pengobatan terdiri dari :

Akar
Akar adalah penyangga tumbuhan serta berperan menyerap air dan nutrisi. Akar yang dapat digunakan untuk jamu diantaranya akar alang-alang, akar pepaya, akar wangi dll.

Rimpang
Berbeda dengan akar, rimpang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia didefiniskan sebagai umbi (akar) yang bercabang-cabang seperti jari. Di wilayah Indonesia rimpang sangat subur dan menjadi tanaman komoditi ekspor. Tanaman ini mudah tumbuh, dapat ditanam di dataran tinggi maupun rendah. Rimpang yang dapat digunakan sebagai bahan baku jamu adalah kunyit, jahe, kencur, kunci, lempuyang, sunthi, temulawak, bangle dll.

Umbi
Umbi berbeda dengan akar karena umbi terletak di pangkal tumbuhan dan berukuran besar. Umbi yang dapat digunakan sebagai bahan baku jamu adalah bawang merah dan bawang putih,

Kulit kayu
Kulit pohon yang tumbuh di Indonesia nyatanya berkhasiat untuk pengobatan. Kulit pohon yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan jamu adalah kayu manis, kayu timur, kayu ulas, kayu angin, rasuk agin, secang, mesoyi, kelembak.

Daun
Daun sebagai bahan baku pembuatan jamu dianataranya daun muda anggur, daun asam jawa, daun sambiloto, daun remujung, daun beluntas, godhongkasih, karandan, pegagan, sirih, waru, katuk, dll.

Bunga
Bunga yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku jamu diantaranya adalah bunga cengkih, bunga waru, bunga apen.
Buah
Buah yang mengandung khasiat obat dan digunakan untuk bahan baku jamu adalah asam jawa, pala, labu putih, jeruk nipis, delima, pinang, mengkudu, nanas, kelapa.

𝙏𝙧𝙚𝙣𝙙𝙞𝙣𝙜  18 Universitas Swasta Terbaik di Indonesia versi Kemendikbudristek 2021

Biji
Biji dalam pengobatan tradisional juga berkhasiat. Biji yang digunakan untuk bahan baku jamu diantaranya adas, jinten, kedhawung, ketumbar, mungsi.
B. Cara Pemberian Jamu dan Jenis Jamu

Berdasarkan cara pemberian jamu kepada penderita dapat digolongkan dalam 5 kategori :

Di-boreh-kan dan di-param-kan (dibalurkan)
Cara pemberian jamu dengan di-boreh-kan dan di-param-kan hampir sama. Pemberian jamu dengan cara jamu yang berupa bahan-bahan yang telah ditumbuk halus dibalurkan ke bagian-bagian tubuh agar penyakit berangsur sembuh. Contoh jamu dengan cara di-boreh-kan sebagai berikut:

a. Jamu Param Gatal
Bahan :
2 jari dlingo (Acorus Calamus L)
2 jari bangle ( Zingiber Cassumunar Roxb.)
1 genggam daun sambiloto (Andrographis Paniculata Ness.)
2 jari belerang (sulfur)
Cara Membuat:
Kupas kulit dlingo dan bangle, lalu cuci bersih semua bahan. Setelah itu tumbuk semua ramuan hiangga halus dan oleskan pada bagian tubuh yang gatal, 2 kali sehari, sebelum mandi.

b. Jamu untuk Kaki Bengkak Saat Hamil
Bahan:
½ sendok makan beras
3 jari rimpang kencur (Kaempferia galanga L.)
½ jari rimpang jahe (Zingiber Officinale Rosc.)
10 butir cengkih (Eugenia Aromatica O.K)
Cara Membuat:
Kupas kencur dan jahe lalu cuci bersih. Tumbuk semua bahan sampai halus sambil diberi air ½ gelas. Peras dan saring. Borehkan air perasannya pada kaki yang bengkak

Di-cekok-kan
Cekok dalam Bausastra Jawa berarti jamu bocah cilik kalêbokake ing cangkêm sarana gombal dipêrês. Jamu tumbuk dimasukkan ke kain bersih kemudian diperaskan ke mulut. Pemberian jamu dengan cara di-cekok-kan umumnya diberikan untuk anak-anak. Contoh jamu dengan pemberian di-cekok-kan:

a. Jamu Panas Dalam Pada Anak
Bahan:
3 helai daun meniran, Adas, Pulasari, Kayu Secang, Kayu Bidara Putih, Segenggam Daun Bawang Merah
Cara Membuat:
Semua bahan ditumbuk halus, dimasukkan ke kain kemudian air perasan langsung di-cekok-kan ke mulut anak.

b. Jamu Anak Terkena Sawan
Sawan dalam KBBI berarti berbagai-bagai penyakit (biasanya datang dengan tiba-tiba, menyebabkan kejang, kancing mulut, dan sebagainya). Dalam pengobatan Jawa, penyakit sawan pada anak dapat disembuhkan dengan jamu cekok.
Bahan:
Dringo, Bengle, Kunyit, Jinten Hitam, mesoyi, kemukus, bawang merah
Cara Membuat:
Semua bahan dihaluskan, dimasukkan ke dalam kain bersih dan diperas langsung ke dalam mulut anak.

Diminumkan
Jamu dengan cara diminum adalah yang paling lazim dikenal masyarakat. Jamu dapat ditumbuk dengan bahan mentah dan langsung diminum atau diolah dengan dimasak terlebih dahulu. Contoh jamu dengan cara diminumkan:

𝙏𝙧𝙚𝙣𝙙𝙞𝙣𝙜  20 Kampus Swasta Terbaik di Indonesia 2021

a. Jamu Kunyit Asam
Berkhasiat melancarkan peredaran darah sehingga haid lancar. Jamu ini juga berkhasiat untuk meghilangkan nyeri haid.
Bahan:
2 jari kunyit (Curcuma domestica Val.)
5 biji asam (Tamarindus Indica L.)
Adas ( 1 ujung sendok teh)
Cara Membuat:
Kupas kulit kunyit lalu cuci bersih, kemudian diparut. Setelah itu, berikan segelas air matang dan aduk rata, kemudian saring. Beri air asam dan gula aren secukupnya. Minum ramuan ini 1 kali sehari.

b. Jamu Pegal Linu
Jamu ini untuk mengurangi rasa pegal dan linu dan menghilangkan bengkak akibat rematik.
Bahan:
1 genggam daun remujung/kumis kucing ( Orthosiphon grandifloras Bold)
2 rimpang kencur (Kampferia galanga L.)
2 rimpang jahe (Zingiber officinale Rosc.)
½ sendok teh adas (Foeniculum vulgare Mill)
10 butir cengkih (Eugenia Aromatica O.K.)
Cara Membuat:
Cuci bersih semua bahan lalu tumbuk hingga halus. Tambahkan ½ gelas air matang lalu saring. Saat akan diminum beri sedikit gula aren. Minum ramuan ini 2 kali sehari, pagi dan sore.

c. Jamu Anemia
Jamu ini berkhasiat untuk menambah darah. Bayam merah yang kaya akan zat besi diketahui mampu menambah darah ditambah bahan-bahan lain yang juga berkhasiat.
Bahan:
1 jari rimpang kecur (Kaempferia galanga L.)
1 jari rimpang kunyit (Curcuma domestica Val.)
7 helai bayam merah (Iresine herbstii Hook f.)
1 butir telur ayam kampung, diambil kuningnya saja
Cara Membuat:
Kupas kencur dan kunyit. Lalu, kencur, kunyit dan bayam merah dicuci hingga bersih dan ditumbuk sampai halus sambil diberi air matang sedikit-sedikit, kira-kira 1 gelas. Peras dan saring. Saat akan diminum beri 1 kuning telur dan sedikit madu. Minum ramuan ini 1 kali sehari, pada sore hari. Namun tidak dianjurkan diminum setiap hari cukup 2 hari sekali.

Di-pupuk-kan
Definisi pupuk dalam Bausastra Jawa adalah tamba pipisan (mamahan lsp) kang nyêmêk-nyêmêk ditèmplèkake ing êmbun-êmbunan, atau dapat diterjemahkan bahwa pupuk adalah obat berupa jamu tumbuk (kunyahan) yang masih basah dan ditempelkan di bagian ubun-ubun. Pupuk dalam pengobatan jamu Jawa umumnya digunakan untuk pengobatan bayi. Contoh jamu pupuk adalah:

a. Jamu Pupuk Bayi untuk Penghangat
Bahan:
Beras, kencur dan garam
Cara Membuat:
Semua bahan digilas atau dapat dikunyah sampai halus. Setelah itu ramuan yang masih basah ditempelkan di ubun-ubun bayi

𝙏𝙧𝙚𝙣𝙙𝙞𝙣𝙜  10 Perguruan Tinggi Swasta Terbaik di Indonesia 2021

Di-tapel-kan
Tapel dalam Bausastra Jawa didefinisikan sebagai tamba sing diusarake ing wêtêng. Pengobatan di-tapel-kan dilakukan dengan cara ramuan diusapkan pada bagian perut. Contoh jamu tapel adalah sebagai berikut:

a. Tapel Bersalin
Jamu ini berkhasiat bagi ibu yang baru saja melahirkan agar perut kembali kencang dan mengurangi rasa mulas.
Bahan:
10 tetes minyak kayu putih
Sejumput kapur sirih
1 buah jeruk nipis
Cara Membuat:
Campurkan kapur sirih, minyak kayu putih, dan air perasan jeruk nipis lalu aduk hingga merata. Setelah itu oleskan ramuan ini ke perut ibu yang baru melahirkan dan gunakan hingga 40 hari. Sesudah menggunakan ramuan ini, hendaknya sang ibu menggunakan gurita.

b. Tapel Obat Cacingan untuk Anak
Jamu ini berkhasiat menyembuhkan cacingan pada anak.
Bahan:
dringo, bengle, bawang putih satu siung, jinten putih, kayu angin.
Cara Membuat:
Semua bahan dihaluskan, kemudian dipakai untuk tapel/diusapkan di perut pagi dan sore.
C. Upaya Melestarikan Jamu

Pemerintah Indonesia hingga ini kini masih megupayakan agar jamu terdaftar sebagai warisan budaya tak benda dunia di UNESCO. Pada tahun 2015 Kementrian Kesehatan telah mencanangkan Gerakan Nasional Bugar dengan Jamu (Gernas Bude Jamu). Selain itu riset juga telah dilaksanakan melalui Balai Besar Litbang Tanaman Obat dan Tanaman Obat Tradisional yang dilaksankan oleh Badan Riset Tumbuhan Obat dan Jamu. Riset ini telah menghasilkan database pengetahuan etnofarmakologi.

Upaya pemerintah dalam melestarikan jamu akan lebih lengkap jika dibarengi dengan upaya di ranah lain, diantaranya:

Memasukkan materi jamu atapun bahan baku jamu dalam kurikulum pembelajaran di sekolah. Upaya ini dilakukan agar jamu lebih dikenal sejak tingkat PAUD hingga SMA/SMK serta menghilangkan kesan bahwa jamu adalah obat kuno
Menggelorakan gerakan menanam tanaman obat di ligkungan rumah maupun lingkungan kampung. Upaya ini agar masyarakat dapat kembali membudayakan minum jamu dari kebun sendiri untuk kebutuhan sehari-hari;
Menyelenggarakan riset jamu yang melibatkan pelajar ataupun mahasiswa agar generasi muda lebih berperan aktif dalam melestarikan jamu tradisional;
Membuat regulasi yang mempermudah masyarakat dalam membudayakan bahan baku jamu, memproduksi jamu untuk komoditi dalam negeri maupun komoditi ekspor
Mewajibkan sajian jamu pada perhelatan yang diselenggarakan instansi pemerintah. Upaya ini agar Gerakan minum jamu bukan diperingati pada tanggal tertentu namun pada setiap kesempatan, sehingga budaya minum jamu lambat laun akan kembali lestari.
Oleh : Arpeni Rahmawati, S.Pd.